T E R I M A K A S I H
"Hai, sudah lama kita tidak bersua. Bagaimana keadaanmu saat ini? Haha tentu aku tidak bisa menebaknya, jangan kau ajak aku bercanda seolah-olah kita berdampingan."
Argh, mengapa? Mengapa semuanya terus menerus berlalu lalang di setiap inchi tubuhku? Kamu tau bahwa ini semua sudah musnah, kamu tau semua ini telah berakhir. Setiap kali aku berlari dengan kencang kau terus mengejarku dengan kencang pula. Namun, ketika aku berhenti berharap kau hampiri aku, malah yang terjadi kau ikut berhenti. Bersembunyi dibalik batang kayu besar, dalam pikiranmu mungkin kau berharap aku tidak melihatnya. Salah besar. Aku tau kau dimana dan aku selalu tau kau berbuat apa.
Bodoh sekali diri ini. Selalu menyiapkan diri ketika dihampirinya lagi. Lebih bodohnya lagi, diri ini dengan senang hati menerimanya. Magnet dari benua mana yang kau tempelkan dalam tubuhmu sehingga aku tidak bisa menolak aura yang datang kepadaku? Aku benci aroma wewangian yang melekat dalam tubuhmu. Ya jelas saja aku tidak menyukainya, meski raga benar terpisah ber kilometer tetapi setiap aku berjalan ada saja wewangian yang mirip dengan aromamu. Bagaimana aku bisa lupa jikalau itu terus menghantuiku.
Sekali lagi aku terlena, dengan semua yang telah membuat raga ini jatuh kepadamu. Haha, dasar manusia bodoh aku ini. Sudahlah, memang harusnya aku cepat menyelesaikannya. Dan ini adalah kata-kata yang terucap dari bibirmu "Silahkan". Aku sadar, setiap bertemunya dua insan yang sedang jatuh cinta pasti terpisahkan dengan satu kata menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar